Showing posts with label LMM. Show all posts
Showing posts with label LMM. Show all posts

Wednesday, April 01, 2009

Jasad Manusia

Kejadian jasad manusia mempunyai beberapa hikmah dan rahasia yang menyamairahasia kejadian langit dan bumi, maka alangkah baiknya kita memberi gambaranperumpamaan dengan serba ringkas dalam ilmu Tasrikh yaitu Ilmu Tentang Asal Usul Kejadian Manusia.
Bahwa Manusia mempunyai 360 tulang yang sama dengan 360 derajat pada lingkaran bumi dan juga 360 hari. Manusia juga mempunyai 17 sendi yang besar karena umumnya manusia terjaga setiap sehari semalam 17 jam yaitu 3 jam pada awal malam dan 2 jam pada awal siang dan 12 jam pada masa siang. Maka dalam 17 jam inilah gerak gerik anggota yang 17 sendi itu melakukan kebajikan atau kejahatan ? maka syariatnya diwajibkan dan difardhukan kepada manusia mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari semalam sebanyak 17 rakaat.

Manusia mempunyai Urat-Urat besar dalam badan manusia berjumlah 12 yaitu jadi ibarat 12 bulan setahun dan 12 jam pada siang dan 12 jam pada malam. Dikatakan juga bilangan rambut manusia ada 124.000 yaitu supaya mengingatkan kepada kita jumlah Nabi-nabi yang diikhtirafkan ulama sebanyak 124.000 nabi dan banyak lagi rahasia-rahasia kejadian tubuh manusia yang sengaja ditinggalkan dan masih banyak lagi rahasia-rahasia diri manusia yang sama dengan alam semesta ini, diantaranya sbb :

Di alam dunia ada Siang dan Malam, didalam diri manusia ada Jaga gambaran dari Siang dan ada Tidur gambaran dari Malam.

Di alam dunia Hari yang Tujuh gambarannya di dalam diri manusia adalah Inderawi yaitu 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung dan 1 mulut.

Di alam dunia satu tahun ada 12 bulan, gambarannya di dalam diri adalah 2 tangan 2 kaki, masing-masing memiliki 3 patahan tangan dan 3 patahan kaki dikali 2 (kiri dan kanan) adalah 12.

Di alam dunia satu Windu ada 8 tahun, gambarannya dalam diri adalah di tangan dan kaki ada mata (mata kaki) masing-masing 2 di tangan dan 2 di kaki dikali 2 (kiri dan kanan) jumlah 8.

Di alam dunia ada hawa Panas, hawa Dingin, hawa Angin dan hawa Tanah, maka didalam diri pun ada hawa nafsu Amarah, Lauwamah, Sawiyah dan Muthmainah.

Di alam dunia terang karena ada Matahari sumber kehidupan seluruh isi dunia, kenyataan didalam diri manusia ada Hidup nya, namun yang ini sifatnya gaib tidak dapat dijirimkan, kenyataan inilah yang harus dicari dengan tarikat untuk menyatakan sifat Hidup, tidaklah bisa dilihat dengan awasnya mata kepala tapi harus dengan mata batin (Rasa).

Yang menghidupkan jasmani kita itu adalah mataharinya Wujud yang disebut Jauhar Latif (Nur yang teramat halus) tidak akan dapat di indera, tapi wajib ketemu oleh kita. Al Qur’an menyebutkan :

”Semata-mata manusia buta didunia, maka di akhirat pun tetap buta"

Sebagai bandingan, bukti di alam dunia ini kita bisa bisa hidup karena adanya Terang, maka Terang-nya Batin pun harus kita telusuri agar ketemu dengan nikmat akhirat yang langgeng.

” Wa asmaihi ta’alla a badan bil kuffra”
“Barangsiapa yang hanya mengaji Asma saja tetaplah kafir”

Karena tidak mengenal akan barangnya, hanya menyembah Nama saja. Setegasnya kata Allah itu adalah Nama dan setiap Nama tentu mengambil dari bukti, dari Dzat SifatNya akan tetapi Dzat Sifat Allah SWT tidaklah bisa dilihat dengan awasnya mata kepala, bisa dilihatnya hanya dengan awasnya mata batin yang disebut Hakikat Muhammad karena hanya itulah yang bisa menyampaikan kita kepada Dzat SifatNya Allah SWT, sedangkan kepada SifatNya yaitu dengan
AsmaNya. Tidaklah ada kejadian yang bisa menyamai dengan kejadian manusia pada nisbat nya yang indah dan baik penciptaannya dan mulia keadaannya serta tinggi derajatnya jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang lain seperti firman Allah dalam QS : At Tin ayat 4

“Sesungguhnya kami jadikan manusia itu sebaik-baiknya kejadian”

dan tidak ada satupun kejadian yang diperintah oleh Allah kepada malaikat supaya sujud dan tahiyat melainkan manusia (Adam) dan juga menyebabkan syetan dimurkai dan dikutuk oleh Allah karena ingkar pada perintahNya untuk memberi hormat dan sujud kepada manusia (Adam). DijadikanNya semua perkara pada manusia sifat Ma’ani yang Tujuh karena tempat menerima Atsar (tempat), Sifat Ma’ani Qadim yang dinamakan Naskhah Al Haq.

Sesungguhnya manusia itu Lemah dan Bodoh, apabila dimusyahadahkan akan kejadian diri semata-mata diri yang dzohir atau diri yang batin, maka tidaklah akan cukup Akal manusia untuk memikirkan Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu, maka sulit untuk memberikan gambaran atau takrif yang mensifatkan dari jenis apa ?. Maka Al Qur’an memberikan pengajaran sebagaimana firman Allah dalam QS : Al Isra: 85 :

“Jika engkau ditanya tentang ruh, katakanlah ruh itu adalah urusanKu”

Oleh karena susah akan membuat takrif, maka disebut oleh orang arif dengan nama Latifatul Rabaaniyah, maka bersungguh-sungguh guru-guru ahli ahli Ma’rifatullah melalui Tarikatnya yang disebut Ilmu Suluk karena :

Tidak ada hasil kejernihan dan kesucian hati dengan tidak melalui Tarikat (Pengambilan Ilmu atau Amalan dari Guru) yang diterima dari guru yang mursyid
Tidak bisa membedakan antara yang haq dan yang batil (makna sebenarnya dari hakikat ma’rifat).

Sunday, February 15, 2009

Bayangan Neraka

Alam dunia dan segala isinya ini adalah bayang-bayangnya neraka, mari kita tatap matahari, gunakan sebuah cermin kaca yang berwarna hitam, maka akan nampak bayangan sebuah bola api besar yang menyala-nyala, bayangkan panasnya, mencapai ribuan derajat celsius. Tetapi bila kita mendekati ke pusatnya, misal pernahkah anda hiking? naik ke puncak gunung, mendekati matahari, maka semakin tinggi semakin sejuk udaranya dan sinar matahari lebih terasa nyaman.

Sohibz, kiasan ini (qiyas) memberi satu petunjuk agar setiap manusia mau berpikir dan mencari dan jangan merasa jauh dengan Dzat Allah SWT.
Cermin kaca hitam tadi itu ibaratnya Jasmani kita yang menjadi hijabnya kepada Dzatullah. Sumsum, Tulang, Daging dan Kulit kita inilah yang menjadikan hijabnya kepada Allah SWT.

“La hijabak illa wujudika papnin”
“Sesungguhnya Allah tidak menghijab selain diri kamu, jika ingin tahu akan Aku, bongkarlah dirimu, jangan merasa memiliki ada wujud dan alam ini sebab Aku Nafi Isbat"

So...bagaimana caranya agar kita bisa menghilangkan jasad dan alam dunia ini ? Apakah waktu tidur ? waktu pingsan ?. Tidaklah seperti itu, karena walaupun dalam tidur tidak merasa ada wujud dan dunia terasa menghilang, tetap dalam kondisi seperti itu tidak akan ketemu DzatNya Allah SWT. Manusia waktu tidur adalah lupa, bahkan Iman pun tidak ada, sebab bukan demikian jalannya. Patokan ma’rifatullah adalah dari tarikat, belajar Ilmu harus disaat jaga, yaitu dalam Terang. (Terang artinya Tahu, Pengetahuan itu adalah Ilmu) segala pekerjaan manusia dikerjakan ditempat terang, terangnya cahaya dan tahu ilmunya. Tanpa itu segala pekerjaan adalah sia-sia.

Thursday, February 12, 2009

ASMA ALLAH

Allah itu setegasnya adalah nama Tuhan yang diibadahi oleh semua mahluk diseluruh alam dan zaman. Allah adalah bibit buit segala yang wujud yang ada di semua alam dan zaman. Allah itu Wujud Yang Maha Suci yaitu kontaknya dari segala yang disebut Suci, yang menjadi ‘segara-nya rasa-rasa yang Suci’.
Kita adalah mahlukNya, yang berasal dari Dia harus mau berjalan menuju Allah SWT, mau ber ikhtiar mencari jalan (Ilmu) nya agar mengenal dan merasakannya dengan yaqin, hingga kelak bila kita telah selesai mengembara di alam dunia ini, bisa kembali lagi kekampung asal kita, yaitu ke alam kelanggengan yang penuh dengan kenikmatan, bisa masuk ke wujud yang penuh dengan rasa suci yaitu kepada Allah SWT, kepada Rasa Allah, menepati dalil Al Qur’an “Innalillahi wa inna llaihi Rojiun”.

Asma Allah (Nama ALLAH) itu ada empat huruf yaitu Alif Lam Lam Ha, asal dari Dzat Sifat Allah jua. Dzat adalah Kenyataan, Sifat adalah Rupa. Keempat huruf itu hakikatnya asal dari Nur yang empat rupa, yaitu sorotnya dari Jauhar Awal (Nur Allah) yang sifatnya terang, kemudian muncul kenyataan cahaya Af’al yang disebut Nur Muhammad atau Hakikat Adam, bibit buit alam ini yaitu yang disebut Naruun, Hawaun, Turobun dan Ma’un. Segala yang ada di alam ini, benar semua berasal dari Allah, yaitu dari Nur yang empat tadi dan ke-limanya adalah Jauhar Awal. Tidaklah berpisah Dzat dengan SifatNya Maha Suci, juga Asma-nya, sudah Sa-Adat antara Allah, Muhammad, Adam bergulung yang disebut Ahadiat, Wahdat, Wahidiat atau Dzat, Sifat, Asma. Sedangkan Af’al nya yakni Alam Dunia dan segala isinya.

Adanya Api di alam dunia dari sorotnya Naruun (cahaya merah)
Adanya Air di alam dunia dari sorotnya Ma’un (cahaya putih)
Adanya Angin di alam dunia dari sorotnya Hawaun (cahaya kuning)
Adanya Tanah di alam dunia dari sorotnya Turobun (cahaya hitam)

Asma Allah tidak pernah jauh dari Qadimnya, tetap ada lima huruf, Rukun Islam ada lima perkara, Sholat ada lima waktu, Imam (Madzhab) ada empat kelimanya Baitullah, Sahabat Nabi ada empat, kelimanya Rasulullah sendiri, semuanya mengisyaratkan lafadz Allah SWT. Dia yang begitu Sempurna.... Dia Yang Maha Hidup...dalam Qur’an Suci disebutkan bahwa Allah SWT meliputi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, kenyataannya diliputi semuanya itu adalah oleh Asma-Nya. Satu Asma tapi cukup untuk semuanya.

Tuesday, February 10, 2009

Nafsu Manusia

Setiap manusia yang Hidup di alam ini tentu memiliki Rasa, dimana ada hidup tentu ada Rasa, ada Rasa tentu ada Hidup. Hakikat Rasa adalah utusan Hidup. Jirim dan Jisim manusia adalah tempat Rasa. Hidup dengan Rasa, kaya akan Rasa. Pada hakikatnya manusia lahir ke dunia ini karena ada Rasa, yang tak lain dari Rasa Ibu dan Bapak kita, setelah sah menjadi suami istri, sejak sah melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri, dimana dua rasa bergulung menjadi satu. Didalam rahim sperma tumbuh menjadi segumpal darah, lalu menjadi janin dan ada hidup setelah 120 hari, Allah SWT mengutus Ruhul Qudus kedalamnya. Ketika bayi lahir ke alam dunia Ruhul Qudus atau ‘Hidup Suci’ itu kontak dengan hawa-hawa dunia yang mengadung unsur-unsur Air, Angin, Api, dan Tanah, timbullah Nafas yaitu sifatnya Nyawa.

Saat pertama kali bayi mengecap air susu ibunya, maka Rasa Sejatinya atau Rasa Azali nya kontak dengan saripati-saripati makanan yang terkumpul dalam ASI, yang asal kejadiannya pun dari empat unsur-unsur alam dunia tadi, sebab jika Ibunya tidak memakan makanan yang ada di alam ini, tidaklah mungkin akan ada air susunya. ASI yang dihisap bayi terus mendorongnya menjadikan sebuah keinginan (nafsu), maka dari situ mulai tumbuhlah Nafsu, yaitu pada saat kontaknya Rasa Sejati dengan Air Susu Ibu, betapa si bayi merasakan manisnya rasa susu yang membuatnya semakin lama semakin ketagihan, telat diberi ASI pun menangislah sang bayi,hawa dari makanan dan minuman terus mendorong bayi tumbuh membesar dan memproduksi Darah, inilah yang disebut Roh Jasmani.

Buktinya jika darah mannusia beku maka berhenti pula Nafas dan Nafsu-nya, sedangkan Hidup Suci yang di utus Allah SWT tadi sewaktu azali, akan tetaplah Hidup, karena asal dari Sang Maha Hidup. Bayi semakin hari semakin tumbuh besar, semakin kuat pula keinginannya, maka semakin tebal pula nafsu-nafsu menghijabnya hingga lupa kepada hidup-nya yang azali. Alangkah arifnya bila kita manusia mau mengenal ke asal-usul kejadian dirinya, karena ini semacam barometer untuk mengenali jalan pulang ke kampung asalnya yaitu ke Sagara Hayat, kepada Sang Maha Hidup, Allah SWT. Berusahalah agar menjadi arif, jika kita telaah Rukun Islam yang kelima yaitu Naik Haji ke Baitullah, bila dipikir dibolak balik, dikaji dan ditelaah dengan seksama, maka itu mirip sebuah ibarat, illustrasi perjalanan manusia ke Pusat Diri, salah satu rukun haji yaitu melaksanakan Thawaf mengelilingi Ka’bah yang gerakannya melingkar yang berlawanan dengan arah jarum jam, mengandung makna menyingkapkan kembali hijab-hijab diri dari nafsu-nafsu yang terlanjur membalut raga, agar bisa menemukan kembali Hidup Suci, bisa “Mulih ka Jati Mulang ka Asal”, menepati dalil Qur’an Suci - Innalilahi wa inna illaihi Rojiun...

"Sesungguhnya kita (manusia) berasal dari Allah dan Sesungguhnya kita (manusia) akan kembali kepada Allah jua"

Benarkah kita merasa asal dari Allah SWT ? Jika pengakuan kita seperti itu, maka WAJIB kita kembali itu kepada Allah SWT.

Thursday, January 29, 2009

Sea of Love

Adakah diantara kita, yang masih ingat masa dulu sewaktu masih berada di alam batin, yaitu sewaktu masih berada di QadimNya sebelum turun ke dunia ini? Mustahil, jika ada manusia yang akan ingat, sebab disitu ia tidak merasakan apa-apa, rasa enak dan tidak enak pun luput, sebab masih berada di dalam Sagara Hidup (Bahrul Hayat). Suatu ittibarah dalam proses kehidupan sehari-hari, kita ini ibarat Air di lautan yang Rasa-nya Asin sebagai ibarat Rasa Batin, yaitu sebelum kita lahir ke alam dunia, sebelum Rasa Sajati dibalut Rasa Jasmani.

Melalui suatu proses alamiah yang menyebabkan Air Laut menguap karena sorotnya matahari, air menjadi uap dan bergulung menjadi awan, lalu tertiup angin hingga sampailah ke daratan, ke pegunungan, setelah itu menjadi mendung dan turun kembali menjadi Hujan. Rasa Asin air laut itu pun berubah menjadi tawar. Setiap titik Air Hujan bila kita renungi maka itu memberikan suatu ibarat dimana setiap titik-titik air ibarat menjadi satu nyawa setiap mahluk, karena itu tak terhingga banyaknya. Rasa Batin manusia setelah datang ke alam kausalitas ini pun berubah menjadi ada ‘rasa enak dan tidak enak’. Terbukti ada susah ada senang, ada sedih ada bahagia. Lalu bagaimana rasa azali itu dapat dirasakan kembali ?
Renungkanlah perjalanan air laut yang sudah menjadi tawar itu, kembali lagi ke asalnya yaitu ke lautan. Air mengalir selalu mengikuti dataran rendah agar bisa kembali ke asalnya laut, juga memberikan pelajaran bagi umat manusia, air senantiasa melambangkan sifat handap asor, selalu menari yang rendah, ibarat manusia belajar mengurangi nafsu serakahnya yaitu nafsu Lauwamah dan selalu berusaha untuk :

- Mencari Jalan untuk kembali ke asalnya
- Mencari Akal agar bisa kembali ke asalnya
- Mencari Ilmu agar Rasa Dunia kembali ke Rasa Sajati

Tetapi jika air tawar tadi tidak dapat menemukan jalannya untuk mengalir kembali ke lautan, sudah tentu tertinggal di selokan, di comberan, dikubangan, di got dan berbau busuk. Lalu bagaimana dengan manusia? bukankah ingin juga kembali ke asal jika kelak pulang? Jika tidak bisa kembali ke asalnya, kepada Allah, maka akan tetap tinggal di Rasa Dunia atau di Rasa Jasmani hingga kiamat, lalu siapa yang akan menerima siksa ? ya Rasa Jasmani yang tertinggal di dunia saat hancur leburnya (kiamat) alam dunia ini.
 
© Copyright 2012 RasaDzaati
Alwinz