Showing posts with label Babaran. Show all posts
Showing posts with label Babaran. Show all posts

Sunday, May 20, 2012

Hirup

Naon atuh ari HIRUP ?
Kasebutkeun yen hirup teh EUSI
Kanyataan yen HIRUP EUSI sakabeh RUANG jeung WAKTU
HIRUP ngeusi kana sakabeh KAHIRUPAN nu aya
HIRUP teu warna ,teu rupa, teu angseu, teu sora
HIRUP eta Berdikari, Teu keuna ku ruksak, teu bisa di rampa
teu bisa di gambarkeun, eta gambaran SAJATINA HIRUP

Bisa di silokaan yen hirup eta :
HI hartina HIJI
RUP hartina RUPA-RUPA

Jadi dimaknaanana yen HIRUP teh HIJI
ngan nyurupna HIRUP eta kana hiji wadah ngajadi rupa-rupa
jadi bisa dihartikeun yen HIRUP boga KEHENDAK
baris nampilkeun DIRIna, makana HIRUP butuh ku wadag kasar
lantaran HIRUP azali na mah ALUS atawa LEMES pisan.

Bener, lamun aya nu nyebutkeun yen hirup teh NYAKSIAN DIRINA
ku hakekat DIRI PRIBADINA sorangan supaya tetep dina HAKIKINA
atawa KALANGGENGAN SAJATINA DIRI.

HIRUP sajatina TEU KEUNA atawa TEU KA TUNGKUL ku pati
sabab lamun hirup keuna ku pati eta lain HIRUP.
di dieu makna hirup LANGGENG (BAQA) salalawasna
teu kena ku robah, ku polah, ku misal, jadi hirup teh kudu pasti
Hirup ge di maknakeun boga rasa, jadi aya harti yen WUJUD HIRUP nyaeta RASA
atawa pancaran dina hirup teh nyaeta RASA HIRUP

Ibarat rasa, gede tapi leutik, leutik tapi gede
hirup, rasa, jeung wadah teu kahalangan ku waktu
ngan supaya eusi jeung wadah alus atawa sampurna hirup
bakal ngarobah waktu, ngarobah cuaca, ngarobah kaayaan
nu leuwih alus, leuwih sampurna.

Rep sirep sakujur tangtung, Rep sirep di sanubari, Rep sirep sinuku tunggal
jeroning ati nu suci, jeroning ati nu mokaha, kumelip bintang di langit
marahmay bulan opat welas, nyarorot cahaya panon poe
nyurup dina curugan, bray caang narawangan, katumbiri pinuh ku widadari
rupa-rupa cahaya, rupa rupa warna, kabengbat ku welas asihna diri,
diri manusa nu sajati,

Lat… hilang buana sajagat
Dat.. ngancik jeroning cupu manik
Les… sakabeh alam corengcang
barabay, burial, bunceulik nur sajati
sing ngait kana ati, GUSTI nu teu jauh jeung DIRI
sing kapi ati ku diri emut teguh kana jangji
jadi SAKSI NU SAJATI....


Friday, July 16, 2010

Perjalanan Ruhani

Yang lupa akan Tuhan melalui Tuhan
Yang kembali dari Tuhan dengan Tuhan
Yang kehilangan tetapi menjumpai
Yang terpisah tetapi bersatu
Yang jauh tetapi dekat
Yang tidak bisa dikatakan tetapi tahu
Yang tidak bisa disifatkan tetapi kenal

Perjalanan keruhanian dalam mencapai kesempurnaan kiranya dapat di ikhtisarkan melalui empat Tahapan (Maqom).

Tahap pertama adalah Perjalanan Menuju Allah yaitu bergerak dari pengetahuan yang rendah kepada pengetahuan yang lebih tinggi sampai kepada pengetahuan mengenai Wajibul Wujud. Dalam proses ini pengetahuan mengenal Mumkinul Wujud (Wujud yang mungkin) berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya terhapus. Keadaan ini dinamakan Fana.

Fana akan membawa memasuki Peringkat Kedua yang dinamakan Perjalanan Dalam Allah. Ini merupakan proses perjalanan yang disebut Ma’rifatullah (Mengenal Allah) dalam suasana yang dinisbatkan kepada ketuhanan atau hakikat-hakikat seperti nama-nama Tuhan, Sifat-Sifat Tuhan dan hal-hal Ketuhanan. Seterusnya sampai kepada suasana yang tiada perkataan dan bahasa bisa bercerita, tanda sifat bisa mengibaratkan tiada hubungan bisa dihubungkan dan tiada sesuatu penjelasan. Pengetahuan (akal) sudah tidak ada dan ma’rifat juga tidak ada dalam suasana yang demikian. Tidak ada pengetahuan dan tidak ada pengenalan yang mampu bercerita tentang Dzat Allah. Perjalanan pada suasana keruhanian yang demikian dinamakan Baqa dalam Tuhan. Ini adalah penghabisan peringkat kedua.

Seterusnya bergerak kepada Peringkat Ketiga yang dinamakan Perjalanan Dari Tuhan. Dalam Peringkat ini perjalanannya berawal dari pengetahuan yang tinggi kepada yang lebih rendah yaitu dari Wajibul Wujud kepada Mumkinul Wujud.
Peringkat ketiga ini merupakan kebalikan dari peringkat kedua. Ketika berada pada peringkat kedua mengalami suasana yang disebut Fana Fil Allah. Pada peringkat ketiga pula meninggalkan maqom ketuhanan dalam keadaan tidak berpisah dengan tuhan. Pengaruh mabuk Wahdatul Wujud sudah berkurang.

Kesadaran kemanusiaan sudah mulai tumbuh kembali sedikit demi sedikit. Bila kesadaran kemanusiaannya telah bertambah kuat, lengkapkan perjalanannya pada peringkat keempat yaitu Perjalanan Dalam Alam Kebendaan.

Pada peringkat ini kembali mengenali sesuatu yang dilupakan pada peringkat pertama dahulu. Peringkat pertama membuat lupa tetapi peringkat keempat membuat kembali mengingat. Alam kebendaan menjadi terang benderang dan kembali sepenuhnya kepada kesadaran diri dan alam maujud. Kembali kepada tempat awal berangkat maka perjalanan menjadi lengkap...

Sunday, June 27, 2010

Buka Dulu Topengmu...

Batang tubuh kita ini tak jauh ibarat sebuah TOPENG pada wajah. Ia memandang tetapi ia buta, karena tidak melihat keadaan yang sebenarnya.

Kita ini sesungguhnya MELIHAT tanpa MELIHAT, karena mata kita terhalang dalam melihat, tetapi bila kita melihat dengan Mata Batin (RASA}, maka badan kita ini seolah menjadi ruhani serta anugerah dari ALLAH SWT.

Topeng ini adalah tirai BAITUL MAQDIS yaitu tirai yang menyembunyikan Tuhan, tetapi Tuhan menyelubungi dirinya tanpa dipaksa.

Engkau hanya memperhatikan TOPENG bukan tubuh penari, gerak gerik serta keselarasan bahasa yang dituturkan. Bila lakon dramatis berbelas kasih maka engkau yang halus perasaannya akan termehek-mehek menangis, terbawa arus kesedihan, sungguh terjadi demikian karena kepiawaian pelakonnya. Banyak orang memperhatikan topengnya bukan penari-nya yang memakai topeng, tetapi sebenarnya dia lah yang penting.

Demikian pula dalam hidup kita ini, yang berlaku jahat disalahkan dan yang berlaku baik di puja puji, tetapi tidak mempersalahkan dan tidak memuji Batin-nya, yang disalahkan dan dipuji adalah badannya. Bila Cacat di cela, bila Rendah hati di puji, tetapi keadaan kita ialah digerakkan dan didorong oleh Dia, akan tetapi Dia tidak nampak, yang nampak hanya batang tubuh ini. Sama seperti topeng yang menutupi wajah penari.

Bila pagelaran usai, topeng dilepaskan dan dipisahkan dari wajah. Tiada daya tiada upaya ia tergeletak, kembali menjadi sepotong kayu biasa, yang tinggal hanyalah sebentuk ukiran raut muka. Topeng selalu disimpan, tidak dipuji maupun di cela lagi karena sudah tak berbicara lagi.
Topeng dan Penari ada tempatnya dalam perumpamaan ini. Dia yang menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihatnya dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai Topeng. Sehabis pertunjukkan Topeng itu disingkirkan oleh Dia, maka :

"Dibelakang Cermin engkau ditempatkan sebagai seekor burung beo, apa yang diucapkan Yang Maha Abadi, itulah yang engkau ulang…"


Peliharalah ucapan dan perkataan yang keluar dari mulutmu, seperti kamu memelihara jenggot. Janganlah panjangnya jubah kesombonganmu, menutupi mata hatimu,karena apabila jubah kesombongan menutup mata hati, maka kakimu akan terseok berjalan tanpa arah tujuan...
 
© Copyright 2012 RasaDzaati
Alwinz