Saturday, October 20, 2012

Nur Muhammad

Bahwasanya kejadian Alam ini pada mulanya ialah dari pada “HAKEKAT MUHAMMAD” atau Nur Muhammad.

Nur Muhammad itulah asal segala kejadian.
Bahwa, Nabi Muhammad itu terjadi atas dua rupa.
Rupa yang Qadim dan Rupa yang Azali.

Pertama, Dialah yang telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada,Dari padanya diserahi Ilmu dan Irfan.
Kedua Dialah rupa sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan Nabi yang diutus Tuhan.
Rupa sebagai manusia itu menempuh Maut, tetapi rupanya yang Qadim tetap ada meliputi Alam.

Maka dari Nur rupanya yang Qadim itulah diambil segala Nur buat menciptakan segala Nabi nabi dan Rasul rasul dan Aulia-aulia..
Cahaya segala Kenabian dari pada Nur akan menyata dan Cahaya mereka dari pada Cahayanya, Tidaklah ada suatu cahaya yang bercahaya, dan lebihnya yang lebih Qadim dari cahaya yang Qadim itu yang mendahului Cahaya Beliau yang mulia.
Kehendaknya mendahului segala kehendak,
Ujudnya mendahului segala yang Adam.
Namanya mendahului akan Kalam-nya sendiri.
Karena dia telah terjadi sebelum terjadi apa yang terjadi.

Lautan Ilmunya diatas megah mengguruh, dibawah kilat menyinar dan memancar, menurunkan hujan dan memberikan kesuburan,
Segala Ilmu adalah setetes dari air lautan.
Segala Hikmat hanyalah satu cangkir dari Sungainya,
Seluruh Zaman hanyalah satu sa’at kecil dari masanya yang jauh.
Dalam hal kejadian Dialah yang Awal,
Dalam Kenabian Dialah yang Akhir
“AL-HAQ” adalah dengan Dia, dan dengan Dia jualah HAKEKAT,
Dia yang pertama dalam hubungan,
Dia yang Akhir dalam Kenabian,
Dia yang Bathin dalam HAKEKAT, dan
Dialah yang dzahir dalam MAKRIFAT

Friday, October 19, 2012

9 ROH Manusia


Menurut ilmu batin pada diri manusia ada sembilan jenis Roh. Masing-masing roh mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Ke sembilan macam roh yang ada pada manusia itu adalah sebagai berikut :
1. Roh Idhofi  :
Adalah roh yang sangat utama bagi manusia. Roh Idofi juga disebut ”JOHAR AWAL SUCI”, karena roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati. Roh ini sering disebut ”NYAWA”. Roh Idofi merupakan sumber dari roh-roh lainnya pun akan turut serta. Tetapi sebaliknya kalau salah satu roh yang keluar dari raga, maka roh Idofi tetap akan tinggal didalam jasad. Dan manusia itu tetap hidup. Bagi mereka yang sudah sampai pada irodat Allah atau kebatinan tinggi, tentu akan bisa menjumpai roh ini dengan penglihatannya. Dan ujudnya mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin. Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membedakannya dengan roh yang satu ini. Alamnya roh idofi berupa Nur terang benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin). Of course... kita dapat menjumpainya bila sudah mencapai level “INSAN KAMIL”.

2. Roh Rabani :
 
Roh yang dikuasai dan diperintah oleh roh idofi. Alamnya roh ini ada dalam cahaya kuning diam tak bergerak. Bila kita berhasil menjumpainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa tenteram. Tubuh tak merasakan apa-apa.

3. Roh Rohani : 
Roh inipun juga dikuasai oleh roh idofi. Karena adanya roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang menepati pada 4 jenis nafsu, yaitu :

• Nafsu Luwamah (aluamah)
• Nafsu Amarah
• Nafsu Supiyah
• Nafsu Mulamah (Mutmainah).

Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu roh rohani yang mengendalikannya. Maka, kalau manusia sudah bisa mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Dimana pandangan kita tempatkan, disitu roh rohani berada. Sebelum kita dapat menjumpainya, terlebih dulu kita akan melihat bermacam-macam cahaya bagai kunang-kunang. Setelah cahaya-cahaya ini menghilang, barulah muncul roh rohani itu.

4. Roh Nurani :  
Roh ini dibawah pengaruh roh-roh Idofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Karena adanya roh ini menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjaid gelap dan gelap pikirannya.
Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah saja. Maka bila manusia ditunggui Roh Nurani maka nafsu Mutmainahnya akan menonjol, mengalahkan nafsu-nafsu lainnya.
Hati orang itu jadi tenteram, perilakunya pun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi segala sesuatu, tidak protes bila ditimpa kesusahan. Suka, sedih, bahagia dan menderita dipandang sama.

5. Roh Kudus (Roh Suci) :
 
Roh yang di bawah kekuasaan Roh Idofi juga. Roh ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mau memberi pertolongan kepada sesama manusia, mempengaruhi berbuat kebajikan dan mempengaruhi berbuat ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya.

6. Roh Rahmani :
 
Roh dibawah kekuasaan roh idofi pula. Roh ini juga disebut Roh Pemurah. Karena diambil dari kata ”Rahman” yang artinya pemurah. Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial, suka memberi.

7. Roh Jasmani :
 
Roh yang juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Roh ini menguasai seluruh darah dan urat syaraf manusia. Karena adanya roh jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya. Bila Roh ini keluar dari tubuh, maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit. Kalau kita berhasil menjumpainya, maka ujudnya akan sama dengan kita, hanya berwarna merah.
Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan kegemaran seperti binatang, misalnya: malas, suka setubuh, serakah, mau menang sendiri dan lain sebagainya.

8. Roh Nabati : 
Adalah roh yang mengendalikan perkembangan dan pertumbuhan badan. Roh ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.
9. Roh Hewani : 
Adalah roh yang menjaga raga kita. Bila Roh Hewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan tidur. Bila masuk ke tubuh orang akan terjaga. Bila orang tidur bermimpi dengan arwah seseorang, maka roh hewani dari orang bermimpi itulah yang menjumpainya. Jadi mimpi itu hasil kerja roh hewani yang mengendalikan otak manusia. Roh Hewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Hewani dan kehadirannya kembali diatur oleh Roh Idofi. Demikian juga roh-roh lainnya dalam tubuh, sangat dekat hubungannya dengan Roh Idofi.


Monday, October 15, 2012

Hakikat BISMILLAH

HAQIIQOTU AL-BISMILLAH TA'RIF 'ALA USHULIL MA'RIFAT WA AL TAUHID BILLAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahi wahdahu laa syariikalahu washshalaatu was salaamu ‘alaa rasuulillaaahi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa man wa laahu laahawla wa laa quwwata illaa billaahi. Asyhadu al laa ilaaha illallahu allaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluhu ammaa ba’du. "Faqaalasysyakhus siraajul ‘aarifu qad allaftu kitaaban almusamma bi ushuulil ma’rifati wat tawhiidi wa ja’altuhaa abwaaban albaabul awwali fii bayaani tafsiimil bismillaahi ay ‘ilmal bismillaahi wasirra ahruu fihaa liannahaa ibtidaau kulliamrin waghayatuhaa wa ibtidaau kulli kitaabin minal qur aanil kariimi ilaghayrihaa."

Artinya :

"Didalam kitab Ushulul Ma’rifat ini disebut juga sebagai kitab Ushulut Tauhid. Dan kitab ini terdiri dari beberapa bab/pasal (pembagian). Dan disalah satu babnya menerangkan tentang Lafadz Bismillah,yaitu menerangkan tentang makna isi dari Bismillah dan menerangkan makna tiap-tiap huruf dari lafadz Bismillah. Karena sesungguhnya kalimat Bismillah merupakan awal dari memulainya semua perkara dan menjadi semua kunci perkara.Dan juga menjadi awal dari semua kitab, yaitu kitab Al-Qur'an dan kitab yang lainnya." 

Jadi kalau kalian mau mengetahui sejatinya Allah SWT, maka harus mengetahui makna/isi kandungan dari lafadz Bismillah.

- Kalau kalian ingin mengetahui seisi alam, maka harus mengetahui isinya Bismillah.
- Kalau kalian ingin mengetahui isinya hakekat ilmu, maka harus mengetahui isinya Bismillah.
- Kalau kalian ingin mengetahui isi bunganya ilmu, maka harus mengetahui isinya Bismillah.
- Kalau kalian ingin mengetahui buahnya ilmu, maka harus mengetahui isinya Bismillah.
- Kalau kalian ingin mengetahui pedomannya ilmu, maka harus mengetahui isinya Bismillah.
- Kalau kalian ingin mengetahui tentang banyaknya ilmu, maka harus mengetahui isinya Bismillah
- Kalau kalian ingin mengetahui ilmunya sholat,maka harus mengetahui isinya Bismillah

Segala permasalahan secara lahir maupun batin semuanya sudah terkumpul didalam kalimat Bismillah.  Sebagai permulaan baik pria maupun wanita hendaknya wajib memahami kandungan isi lafadz Bismillah. Kalau kalian sampai tidak mengetahui makna Bismillah, kelak bisa menjadi kafir.

Sesungguhnya mata dan hati manusia dipenuhi angan-angan. Oleh karena itu banyak manusia yang belum bisa mencapai tahapan ma’rifat billah secara sempurna, walaupun mereka terlihat taat, alim dan rajin beribadah serta mempunyai seribu guru dan seribu kitab atau sudah mempunyai banyak murid dan juga bisa berjalan diatas air tanpa perahu,bisa menembus dan mengelilingi bumi bisa terbang diatas awan dan tidak terbakar oleh panasnya api, bisa menghilang dari penglihatan orang lain,dan ibadahnya lebih khusyuk serta mudah memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemauannya, tetapi anehnya orang-orang tersebut tidak mengetahui kandungan isi lafadz Bismillah, maka orang tersebut disebut kafir ‘Indallah.

Walaupun orang itu turunan dari Kyai atau Wali, tapi tidak mengetahui isinya Bismillah,maka orang tersebut masih tetap kafir ‘ibdallah, dan islamnya masih ‘Indannas.

Kalau kita sudah mengetahui dan bisa memahami serta merealisasikan isinya Bismillah dan isi hurupnya dari lafadz Bismillah . Meskipun orang tersebut turunan Jawa atau turunan Cina atau turunan Barat atau turunan Dayak,  Raksasa/Jin, maka orang tersebut sudah Islam ‘Indallah.
Oleh karena itu apabila kalian ingin menjadi seorang Islam ‘Indallah, maka harus mengerti dulu arti dan kandungan isinya Bismillah.

Makanya kalian harus mengerti berkumpulnya antara jasad, roh, rasa Allah yang mendalam itu seperti bercampurnya pria dan wanita.  Kalau tidak tahu, nanti tidak syah semua amal ibadahnya dan tobatnya pun tidak diterima oleh Allah SWT.

Kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim dirangkum menjadi BISMILLAH,dirangkum lagi menjadi BISMI

Didalam kitab ini yang dijelaskan tentang rangkuman BISMI, yaitu huruf ALIF, BA, SIN dan MIM.

1. MENERANGKAN HURUF ALIF

Huruf Alif didalam lafadz Bismillah sebenarnya Alif Ahadiyah. Dan disebut juga Alif dzatul wahid.  Alif sebagai tanda adanya alam Ahadiyah, yaitu tanda adanya dzat sejati. Dan sebagai bukti nyata hanya ada Allah semata tidak ada yang lainnya. Yang mempunyai Cahaya Kehidupan. Yaitu Hidup yang Menghidupi yang disebut Banyu Nur Alif (Air Cahaya Alif) atau disebut juga dengan Banyu sejati (Air Sejati) atau Ratu Ning Banyu (Penguasa Air).

Dan juga dinamakan Allah Yang Hidup atau Satu Rupa Yang merupakan tempat Menyatunya antara Hidup dan Mati. Didalam alam ini masih berupa wujud mahdhi/wujud dzat sejati/wujud tunggal, hidup tunggal, rasa tunggal, belum ada yang lainnya dan disebut LA TA'YUN, yaitu Dzat yang wujud dengan sendirinya tanpa ada yang mewujudkan,hidup sendiri tanpa ada yang menghidupkan.

Dalilnya terdapat didalam kitab suci Al Qur’anul Karim , "Qul huwallahu ahad" artinya “Katakanlah Wahai Muhammad kepada seluruh umat,kalau sebenarnya Allah SWT adalah dzat tunggal, rasa tunggal/Esa yang menjadikan alam dunia dan seisinya .

2. MENERANGKAN HURUF BA'

Huruf Ba didalam lafadz Bismillah menunjukkan adanya alam Wahdah. Adanya alam wahdah menunjukkan sifat sejati. Dan disebut Sejatinya Muhammad. atau Hakekat Muhammadiyah. Dan juga disebut nyatanya Dzatullah, adanya sejati Nurullah, dan disebut sejatinya Nur Muhammad, dan nyata kenyataannya Allah yang telah menjadikan seluruh alam dunia.

Jadi harus mengertilah bahwa Alif didalam lafadz Bismillah adalah yang menjadikan semua hidup dan semua ruh. Sedangkan huruf Ba' yang menjadikan wujud nyata semua alam. Oleh karena itu hidupnya semua alam dunia dikarenakan adanya Alif (Bathin) dan Ba (Dhohir) didalam lafadz Bismillah. Karena itu Alif dan Ba didalam lafadz bismillah itulah yang menjadi BAPAK dan IBU seluruh Alam dunia. Dan Alif lafadz Bismillah itu disebut Nurullah sedangkan Ba lafadz Bismillah itu disebut sejatinya Nur Muhammad .Kemudian Nurullah dan Nur Muhammad menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisah sehingga tidak dapat lagi dibedakan.

Didalam kehidupan nyata berkumpulnya Nurullah dan Nur Muhammad disebut sebagai kumpulnya antara pria sejati dan wanita sejati yang disebut sebagai Nur Ma’an.

Dalilnya ada didalam kitab suci Al-Qu’anul Karim : "Nuurun ‘ala nuurin yahdillaahu linuurihi man yasyaau yakhribullaahul amtsaala linnaasi wallaahu bikulli syaiun ‘aliim."

Dengan adanya Nur tersebut, sebenarnya Allah SWT ingin memberitahukan kepada semua makhluk ciptaan-Nya dan agar manusia mengetahui bahwa sebenarnya DIA maha mengetahui terhadap semua ciptaan-Nya.

3. MENERANGKAN HURUF SIN

Huruf Sin didalam lafadz Bismillah itu menunjukkan adanya alam wahidiyat, yaitu adanya ilmu yang tiga dan Asma yang tiga pula.

Yang disebut dengan ilmu yang tiga adalah :
- Ahadiyat,
- Wahdat,
- Wahidiyat.

Dan yang disebut Asma yang tiga adalah :
- Allah,
- Muhammad
- Adam.

Sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Sejati, Muhammad adalah Sifat Sejati, dan Adam adalah Asma Sejati, yaitu nyatanya Rasul.

Rasul adalah Nur yang hidup dari Nurullah yaitu nyatanya Adam.
Dan Adam yang menjadi Bapaknya semua manusia dibumi ini

4. MENERANGKAN HURUF MIM

Huruf Mim didalam lafadz Bismillah menunjukkan adanya Roh Idhafi. Dan Roh Idhafi menyatakan adanya manusia sejati, dan menunjukkan adanya af’al sejati.Rangkaian Huruf Sin dan Mim menunjukkan adanya Alam Arwah ,Alam Misal, Alam Ajsam dan Alam Insan Kamil, yaitu nyatanya Asma Allah yang merupakan asma dzat mutlak. Nyatanya Muhammad adalah sebagai pengganti dzat yang nyata. Sehingga sejatinya Allah adalah Dzat nyata yang diwujudkan didalam Muhammad. Dan disebut dhohirnya Muhammad tetapi Hakekatnya ALLAH atau Nyatanya Allah Ta’ala. Nyatanya Muhammad yaitu nyatanya Alam Ajsam yaitu nyatanya asma rasul dan rupanya Adam Idlafi yang menjadi badan dan nyawa / Rasa Tunggal. Dan bagi yang mengetahui arti dua kalimat syahadat berarti sudah mengerti sejatinya Allah dan mengerti sejatinya Muhammad, mengerti sejatinya dhahir dan mengerti sejatinya batin, yaitu dhohirnya nabi batin-nya wali, dzhohir-nya Muhammad batin-nya Allah.

Dan disebut jasad Muhammad hidupnya adalah Allah. Dan yang sudah mengerti sejatinya badan dan mengerti sejatinya hidup, yaitu nyata sejatinya bapak dan ibu.

Sifat Jalal itu Nurullah yaitu lanang (Pria) sejati dan sifat Jamal itu Nur Muhammad yaitu wadon (Wanita) sejati. Sifat Jalal itu kuasa mengeluarkan besi. Sifat Jamal itu kuasa mengeluarkan batu.

Bercampurnya besi dan batu menjadi api. Ibaratnya api itu adalah bercampurnya raga dan hidup/jasad dan ruh. Dan tidak akan ada anak kalau tidak ada ibu dan bapak. Dan tidak akan ada Wahidiyat kalau tidak ada Ahadiyat dan Wahdat.

Jadi Ahadiyat melahirkan Wahdat, Wahdat melahirkan Wahidiyat, Wahidiyat melahirkan semua alam yang lainnya. Ahadiyat maqamnya dzat Wahdat maqamnya sifat Wahidiyat maqamnya asma semua yang ada di alam maqamnya Af’al dan tidak mungkin ada af'al bila tidak ada asma. Tidak ada asma kalau tidak ada sifat, sebab semua af'al,  Asma, Sifat adalah hakekatnya Dzat.

Jadi apabila hamba sudah bisa fana’ Dzat dan fana’ Sifat serta fana’ Af’al, akan bisa Kamal. Kalau sudah bisa Kamal akan bisa Qohar, yaitu keadaan dhohir dan batin sudah bisa kumpul menjadi satu.

Source : Kitab Ushulul Ma'rifat (Terjemah : Syekh H. Muhamad Siroj ‘Arif Billah)

Monday, June 25, 2012

Samudera Sholawat

Berulang-ulang melantunkan sholawat, membuat batin semakin yakin bahwa Allah lah satu-satu nya yang ada dan tiap saat, tiap waktu, tiap ruang Ia senantiasa memuji bayangan Diri-Nya sendiri, yang tak lain adalah Muhammad SAW. Dan Dia senanatiasa bersholawat dimata kita, dikelopak mata, di gendang telinga dan di segenap pori-pori dan sel-sel tubuh.

Berulang melantunkan sholawat, membuat batin sadar kembali bahwa hanya Allah lah Sang Maha Aku, sedang Muihammad ada dalam fikiran juga sekalian alam.

Maka benarlah kata Mansyur Al Hallaj : “Ana Al Haqq”.
Dan benar pula kata seorang wali : “Aku dari Allah dan Allah dari Aku, dan Akulah mu’min yang paling afdol’

Berulang melantunkan sholawat artinya Lebur dalam melodi Kesedihan Tuhan Yang Azali, Hasratnya untuk mengenali diriNya sendiri. Tak ada pelaku lain selain Dia sendiri.

Mungkinkah Tuhan tidak terbingungkan oleh ke maha jamakan khayalannya?
Mungkinkah Tuhan tidak terbingungkan oleh ke maha lawanan Sifat-sifatNya?
Mungkinkah Tuhan tidak tenggelam dalam Samudera Nama-Nama-Nya sendiri?
Sholawat akan menjawabnya ? Maybe ?

Hanya Dia sendirilah tujuan semua dzikir dan do’a, hanya Dia sajalah Sang Maha Pelaku Sebagaimana yang dirintihkan dalam sebuah do’a “Wa anta ghooyatul mas’uul wa nihaayatul maamul”. Dan Engkau Sendiri Ya Allah tujuan do’a ini dan tujuan akhir dari harapan-harapan. Maka Yaa Allah kabulkanlah do’a-do’a kami, wujudkanlah “Kullu syaiun haalikun illa wajhahu” dalam batin yang penuh kegelapan ini dengan SholawatMu.

Saturday, June 16, 2012

Al Falaq

Sholatlah diwaktu subuh dua rakaat, karena kita merasa punya satu Jasmani dan satu Ruhani Manusia adalah kaun al jamii (alam seluruhnya) yang mengandung seluruh martabat wujud, maka Tuhannya yaitu Tuhan manusia adalah yang mengadakannya dan melimpahkan kepadanya kesempurnaan, maka berlindunglah terlebih dahulu dengan Sifat Allah Al Hadii dan setelah itu berlindunglah kepada DzatNya beserta keseluruhan SifatNya yang tak lain adalah Dzatnya sendiri.

Ia adalah Penunjuk, karena Ia lah Jalan Yang Lurus
Ia adalah Penunjuk, karena Ia lah Mentari Wujud
Ia adalah Penunjuk, karena Ia lah Cahaya Langit dan Bumi
Ia adalah Penunjuk, sungguh DzatNya adalah Petunjuk atas DzatNya Sendiri

Lalu apakah yang menghalangi manusia dari pandangan kepadaNya ??

Qul audzu birabbil falaaqi
Katakan aku berlindung kepada Tuhannya Al Falaq. Al Falaq adalah Cahaya yang mendahului merekahnya fajar, disini menggambarkan awal Tajali Dzat Yang Maha Tunggal dari kejamakan Sifat-SifatNya...

Min Syarii maa kholaq
Dan penghijaban mahluk (yang jamak)

Wa min syarii ghoosiqin idzaa waqob
Dari keburukan penghijaban jasamani yang teramat gelap

Wa min syarii naffaatsati fil-uqod
Dari tipuan-tipuan (penghijaban) imajinasi, tahayul, amarah dan syahwat

Wa min syarii haasidin idzaa hasad
Manakala manusia yang diciptakan dalam keadaan yang paling sempurna (fi ahsani taqwim) terlibat dengan intimasi aktifitas yang teramat sibuk dengan mahluk–mahluk, apalagi terlibat dengan kegiatan-kegiatan jasmaniah dan pemuasan nafsu, terlebih lagi ia selalu mengikuti imajinasi tahayul, amarah dan syahwatnya, apalagi ia menuruti iri hatinya (hasad) kepada manusia-manusia lain, maka sungguh ia akan kehilangan pandangan kepada CahayaNya yg lebih terang dari Mentari dan akan kembali ke derajat paling rendah.

Thursday, June 07, 2012

The Man Who Sold The World

Tegakkan Aku Sejati mu, melihatlah dengan mata batin-mu (Rasa) dan bernalarlah dengan Logika terdalam-mu. Lalu pandanglah segala sesuatu, saksikan apa saja yang dapat kau saksikan dengan Kesadaran Sejati-mu (Kesadaran Murni).

Lihat lah diri mu, pandanglah segenap penjuru bumi serta setiap penjuru langit sejauh engkau dapat menjangkaunya. Engkau akan melihat dirimu, sesamamu, makhluk hidup, bumi, tata surya, bulan, bintang dilangit nan luas, engkau akan lihat Semesta Alam dengan segenap elemennya.

Aku, kau, semua orang, semua mahkluk yang hidup dan mati, bumi, bulan, matahari, bintang-bintang dan segenap isi Semesta Alam adalah SATU ke-SATU-an. Elemen-elemen berkolaborasi, jalin menjalin membentuk SATU ke-SATU-an Semesta Alam. Dengan Kesadaran Sejati (Murni) yang ada dalam diri mu, rasakan dengan rasa terdalam bahwa Semesta Alam adalah SATU ke SATU-an.

Dirimu adalah bagian dari SEMESTA ALAM, karena itu Diri ini adalah SATU ke-SATU-an dengan SERU SEKALIAN ALAM.

Aku SATU dengan Kau, dengan Dia, dengan seluruh umat manusia. Karenanya seluruh umat manusia adalah bersaudara (gen una sumus). Menyakiti orang lain berarti adalah menyakiti diri sendiri.
Aku SATU dengan sungai, gunung, hujan, mendung, bumi, bulan, matahari dan bintang
Aku SATU dengan SELURUH ALAM SEMESTA. karena seluruh Semesta Adalah bersaudara.
Merusak alam semesta adalah merusak diri sendiri.
AKU adalah bagian dari SEMUA, AKU adalah SATU dengan SEMUA.

Tetaplah dalam Kesadaran Sejatimu, gunakan Akal, Logika terdalam-mu untuk bertafakur, karena berulang kali kau disindir Tuhanmu dalam Qur’an dengan pertanyaan kritis "Mengapa kamu tidak Berfikir ?”

Tuesday, June 05, 2012

Hakekat Titik

Apabila,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Maka,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas,syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Apabila,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas, syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas, syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka,
Bersatu dalam Titik,
Titik itu adalah Allah,
Syari’at-Tarekat berawal dari Titik,
Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu,
Fillahu,
Bi Idznillahu,
Minallahu,
Allahu,Titik.

Thursday, May 24, 2012

Kenali Batas-Batasmu

Apa yang dikatakan ‘Mati’ dan menjadi ‘Mayat’ itu bukanlah jasad kita ini yang mampus membujur terbungkus kain kafan, lalu dibawa orang berbondong-bondong ke liang lahat atau mati konyol. Bukan...bukan yang seperti itu, yang dimaksud adalah ‘Mati’ tapi masih bisa saza bergerak dan berdiam seperti layaknya manusia biasa, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW :

“Antal maottu qobla maottu” – Matikanlah dirimu sebelum kamu Mati

Inilah isyarat utama yang mewajibkan kita untuk keluar dari Kamar Sialan tadi. Dan yang akan kita matikan itu adalah perasaan ke-aku-an (ego) kita, yakni perasaan si manusia inilah yang merasa mempunyai kuasa, kehendak, atau ‘kuasa tahu’, punya kuasa hidup, kuasa melihat, mendengar, berkata-kata, bergerak, berdiam dsb. Persaaan punya kekuatan dan kuasa berkehendak ini apabila umur kita sudah 50 tahun berarti selama itulah merasa mempunyai ‘daya’, terhimpun, merasuk dan mendarah daging ditubuh kita sebagai manusia. Sekarang perasaan ke-akua-an (ego) yang pernah menjadi miik kita itu, akan kita hancurkan?, akan kita buang?, kita binasakan? atau akan kita matikan ?

Sungguh ini bukan pekerjaan cetek sebab yang pertama dan utama terlebih dahulu kita ini harus mampu mengalahkan perasaan yang telah mendarah daging itu didalam diri kita selama ini , yang memang kita rasakan adalah milik kita dan ‘kita kuasa’ pula untuk mengendalikannya.
Satu-satunya jalan mematikan perasaan yang seperti tadi haruslah mengetahui lebih dulu dimana Batas-batas dari mana sampai kemana yang dimaksud Hak Manusia atau disebut Hak Adam yang diartikan manusia ini.

Penting untuk diperhatikan didalam hal ini adalah ‘bagi siapa-siapa yang berani melampaui atau melewati batas-batas manusia’ maka inilah dia orangnya yang diartikan kedalam golongan Musryikin, yaitu orang-orang yang menyekutukan Tuhan, oleh sebab itu amat penting kita menuntut dan mengetahui mengenai batas-batas yang dinamakan manusia.

Sunday, May 20, 2012

Hirup

Naon atuh ari HIRUP ?
Kasebutkeun yen hirup teh EUSI
Kanyataan yen HIRUP EUSI sakabeh RUANG jeung WAKTU
HIRUP ngeusi kana sakabeh KAHIRUPAN nu aya
HIRUP teu warna ,teu rupa, teu angseu, teu sora
HIRUP eta Berdikari, Teu keuna ku ruksak, teu bisa di rampa
teu bisa di gambarkeun, eta gambaran SAJATINA HIRUP

Bisa di silokaan yen hirup eta :
HI hartina HIJI
RUP hartina RUPA-RUPA

Jadi dimaknaanana yen HIRUP teh HIJI
ngan nyurupna HIRUP eta kana hiji wadah ngajadi rupa-rupa
jadi bisa dihartikeun yen HIRUP boga KEHENDAK
baris nampilkeun DIRIna, makana HIRUP butuh ku wadag kasar
lantaran HIRUP azali na mah ALUS atawa LEMES pisan.

Bener, lamun aya nu nyebutkeun yen hirup teh NYAKSIAN DIRINA
ku hakekat DIRI PRIBADINA sorangan supaya tetep dina HAKIKINA
atawa KALANGGENGAN SAJATINA DIRI.

HIRUP sajatina TEU KEUNA atawa TEU KA TUNGKUL ku pati
sabab lamun hirup keuna ku pati eta lain HIRUP.
di dieu makna hirup LANGGENG (BAQA) salalawasna
teu kena ku robah, ku polah, ku misal, jadi hirup teh kudu pasti
Hirup ge di maknakeun boga rasa, jadi aya harti yen WUJUD HIRUP nyaeta RASA
atawa pancaran dina hirup teh nyaeta RASA HIRUP

Ibarat rasa, gede tapi leutik, leutik tapi gede
hirup, rasa, jeung wadah teu kahalangan ku waktu
ngan supaya eusi jeung wadah alus atawa sampurna hirup
bakal ngarobah waktu, ngarobah cuaca, ngarobah kaayaan
nu leuwih alus, leuwih sampurna.

Rep sirep sakujur tangtung, Rep sirep di sanubari, Rep sirep sinuku tunggal
jeroning ati nu suci, jeroning ati nu mokaha, kumelip bintang di langit
marahmay bulan opat welas, nyarorot cahaya panon poe
nyurup dina curugan, bray caang narawangan, katumbiri pinuh ku widadari
rupa-rupa cahaya, rupa rupa warna, kabengbat ku welas asihna diri,
diri manusa nu sajati,

Lat… hilang buana sajagat
Dat.. ngancik jeroning cupu manik
Les… sakabeh alam corengcang
barabay, burial, bunceulik nur sajati
sing ngait kana ati, GUSTI nu teu jauh jeung DIRI
sing kapi ati ku diri emut teguh kana jangji
jadi SAKSI NU SAJATI....


Friday, July 16, 2010

Perjalanan Ruhani

Yang lupa akan Tuhan melalui Tuhan
Yang kembali dari Tuhan dengan Tuhan
Yang kehilangan tetapi menjumpai
Yang terpisah tetapi bersatu
Yang jauh tetapi dekat
Yang tidak bisa dikatakan tetapi tahu
Yang tidak bisa disifatkan tetapi kenal

Perjalanan keruhanian dalam mencapai kesempurnaan kiranya dapat di ikhtisarkan melalui empat Tahapan (Maqom).

Tahap pertama adalah Perjalanan Menuju Allah yaitu bergerak dari pengetahuan yang rendah kepada pengetahuan yang lebih tinggi sampai kepada pengetahuan mengenai Wajibul Wujud. Dalam proses ini pengetahuan mengenal Mumkinul Wujud (Wujud yang mungkin) berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya terhapus. Keadaan ini dinamakan Fana.

Fana akan membawa memasuki Peringkat Kedua yang dinamakan Perjalanan Dalam Allah. Ini merupakan proses perjalanan yang disebut Ma’rifatullah (Mengenal Allah) dalam suasana yang dinisbatkan kepada ketuhanan atau hakikat-hakikat seperti nama-nama Tuhan, Sifat-Sifat Tuhan dan hal-hal Ketuhanan. Seterusnya sampai kepada suasana yang tiada perkataan dan bahasa bisa bercerita, tanda sifat bisa mengibaratkan tiada hubungan bisa dihubungkan dan tiada sesuatu penjelasan. Pengetahuan (akal) sudah tidak ada dan ma’rifat juga tidak ada dalam suasana yang demikian. Tidak ada pengetahuan dan tidak ada pengenalan yang mampu bercerita tentang Dzat Allah. Perjalanan pada suasana keruhanian yang demikian dinamakan Baqa dalam Tuhan. Ini adalah penghabisan peringkat kedua.

Seterusnya bergerak kepada Peringkat Ketiga yang dinamakan Perjalanan Dari Tuhan. Dalam Peringkat ini perjalanannya berawal dari pengetahuan yang tinggi kepada yang lebih rendah yaitu dari Wajibul Wujud kepada Mumkinul Wujud.
Peringkat ketiga ini merupakan kebalikan dari peringkat kedua. Ketika berada pada peringkat kedua mengalami suasana yang disebut Fana Fil Allah. Pada peringkat ketiga pula meninggalkan maqom ketuhanan dalam keadaan tidak berpisah dengan tuhan. Pengaruh mabuk Wahdatul Wujud sudah berkurang.

Kesadaran kemanusiaan sudah mulai tumbuh kembali sedikit demi sedikit. Bila kesadaran kemanusiaannya telah bertambah kuat, lengkapkan perjalanannya pada peringkat keempat yaitu Perjalanan Dalam Alam Kebendaan.

Pada peringkat ini kembali mengenali sesuatu yang dilupakan pada peringkat pertama dahulu. Peringkat pertama membuat lupa tetapi peringkat keempat membuat kembali mengingat. Alam kebendaan menjadi terang benderang dan kembali sepenuhnya kepada kesadaran diri dan alam maujud. Kembali kepada tempat awal berangkat maka perjalanan menjadi lengkap...

Sunday, June 27, 2010

Buka Dulu Topengmu...

Batang tubuh kita ini tak jauh ibarat sebuah TOPENG pada wajah. Ia memandang tetapi ia buta, karena tidak melihat keadaan yang sebenarnya.

Kita ini sesungguhnya MELIHAT tanpa MELIHAT, karena mata kita terhalang dalam melihat, tetapi bila kita melihat dengan Mata Batin (RASA}, maka badan kita ini seolah menjadi ruhani serta anugerah dari ALLAH SWT.

Topeng ini adalah tirai BAITUL MAQDIS yaitu tirai yang menyembunyikan Tuhan, tetapi Tuhan menyelubungi dirinya tanpa dipaksa.

Engkau hanya memperhatikan TOPENG bukan tubuh penari, gerak gerik serta keselarasan bahasa yang dituturkan. Bila lakon dramatis berbelas kasih maka engkau yang halus perasaannya akan termehek-mehek menangis, terbawa arus kesedihan, sungguh terjadi demikian karena kepiawaian pelakonnya. Banyak orang memperhatikan topengnya bukan penari-nya yang memakai topeng, tetapi sebenarnya dia lah yang penting.

Demikian pula dalam hidup kita ini, yang berlaku jahat disalahkan dan yang berlaku baik di puja puji, tetapi tidak mempersalahkan dan tidak memuji Batin-nya, yang disalahkan dan dipuji adalah badannya. Bila Cacat di cela, bila Rendah hati di puji, tetapi keadaan kita ialah digerakkan dan didorong oleh Dia, akan tetapi Dia tidak nampak, yang nampak hanya batang tubuh ini. Sama seperti topeng yang menutupi wajah penari.

Bila pagelaran usai, topeng dilepaskan dan dipisahkan dari wajah. Tiada daya tiada upaya ia tergeletak, kembali menjadi sepotong kayu biasa, yang tinggal hanyalah sebentuk ukiran raut muka. Topeng selalu disimpan, tidak dipuji maupun di cela lagi karena sudah tak berbicara lagi.
Topeng dan Penari ada tempatnya dalam perumpamaan ini. Dia yang menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihatnya dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai Topeng. Sehabis pertunjukkan Topeng itu disingkirkan oleh Dia, maka :

"Dibelakang Cermin engkau ditempatkan sebagai seekor burung beo, apa yang diucapkan Yang Maha Abadi, itulah yang engkau ulang…"


Peliharalah ucapan dan perkataan yang keluar dari mulutmu, seperti kamu memelihara jenggot. Janganlah panjangnya jubah kesombonganmu, menutupi mata hatimu,karena apabila jubah kesombongan menutup mata hati, maka kakimu akan terseok berjalan tanpa arah tujuan...

Friday, June 25, 2010

@Titik Nol

Wahai Musa...
Kosongklanlah hatimu untuk diisi cintaKu
Karena aku menjadikan hatimu medan cinta-Ku
Aku lapangkan bumi didalam hatimu dari makrifat-Ku
Aku membangun matahari dengan kerinduan-Ku
Aku menyempurnakan bulan dengan kecintaan-Ku
Aku jadikan dihatimu penglihatan dari tafakur
Aku memperdengarkan angin dihatimu dari taufik-Ku
Aku menurunkan hujan dihatimu dari karunia-Ku
Aku menumbuhkan di hatimu pepohonan dari ketaataan-Ku
Aku meletakan gunung dihatimu dari keyakinan-Ku

Dan apakah hati yang kosong itu ? Tidak berisi..! Tidak berisi pengetahuan apapun. Tidak berisi persespi apa pun. Tidak berisi keyakinan apa pun. Tidak berisi bersitan-bersitan imajinasi apa pun. Tidak berisi intelegensia apapun. Kosong, Null mungkinkah?
Bukankah pada hakikatnya pengetahuan manusia bersifat mungkin dan tidaklah mungkin kita memestikan kebenaran pengetahuan kita selama pembenarnya yaitu Indera, persepsi yang masih bersifat mungkin. Bukankah pada hakikatnya seluruh persepsi kita bersifat relatif ?.
Menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tentu tidak mempunyai landasan kebenaran pada persepsi sebagaimana persepsi itu sendiri ? Apa lagi bersitan-bersitan imajinasi. Bahkan seluruh wujud kita adalah hanya dan bayangan wujud kopulatif, yang mengada secara relatif. Karena hubungan imajinatif satu sama lain, dalam lautan gradasi wujud murni tanpa batas ini? Sehingga semestinya kita sadari bahwa kita secara wujudiyah relatif, subyektif, imajinatif, gelap, bodoh, dhoif, blank, ‘adum dari semua pengetahuan.

Dititik nol.. hati akan berbunga kesturi wangi dengan Cinta kepadaNya
Dan Tuhanlah yang akan menjadi Sang Maha Wangi, Semerbak rancak
Menyala menjadi Cahaya
Dan biji mata, Menjadi satu-satunya yang dikenang dan mengenang
Menjadi satu-satunya yang melihat dan dilihat
Menjadi satu-satunya pengetahuan dan yang diketahui
Menjadi satu-satunya ma’rifat dan yang me ma’rifati
Meletakan gunung keyakinan dari keyakinanNya
Dan adakah yang lebih baik dari itu ?

Maka pada saat itu mungkin hamba itu akan benar-benar menyadari bahwa Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi. Dan Allah itu adalah wali bagi orang-orang beriman yang mengeluarkannya dari kegelapan menuju Cahaya.

Tuhanku jika tak kau dahului aku dengan kebaikan taufik-Mu,
maka siapakah yang menghantarkan aku menuju jalan yang terang.

Jadikan kami diantara orang yang Kau kosongkan dirinya untuk diriMu.
Yang kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasihMu.
Yang Kau bersihkan hatinya untuk diisi cintaMu
Yang Kau putuskan dari padanya segala sesuatu yang memutuskan hubungan denganMu.

Monday, June 14, 2010

Anak Rahasia dari Bapaknya

Tuhan adalah yang mengetahui yang ghaib begitu juga syahada (yang nampak). Nama-namaNya. “Yang Awal” dan “Yang Batin” adalah menunjukkan ghaib. Dan yang akhir dan dzohir adalah menunjukkan syahadaa. Dalam hal ini telah termasuk dalam pengetahuanNya, semua tahap-tahap batin, Ahadiyat dan Ulluhiyah dan Rubbubiyah juga tahap-tahap yang lahir, Arwah (dunia roh), itu adalah bahasa Syariat.
Dalam hakikat tahap-tahap itu dinamakan Hadirat Khamsa (lima kehadiran), ghaib kemudian diperlihatkan pula dibawah Ghaibul Ghaib dan Ghaib Ghuyub. Ini ialah enam tahapan dari syariat :

“Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas arsy“

Ini yang membikin syariat tidak membeberkan misteri (yang tersembunyi) kepada umum
“Tuwali ma’a naasa ‘ala qadr uquulihim”
(berbicaralah kepada orang-orang sesuai dengan ukuran akal mereka).
Ini adalah ucapan yang usang...
Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah SAW : “Anta Ahad ?
Beliau menjawab : “Laa ana Ahmadun bi laa mim”, Aku adalah Ahmad tanpa Mim
Yakni “aku adalah benda yang terbatas dan realitasku adalah haq”.

Hakikat itu ditutupi oleh syariat seperti dikatakan :

“Al imaanu uryananun wa libasuun taqwaa”
(kebenaran yang sesungguhnya adalah telanjang dan pakaiannya adalah taqwa)

Para wali dan auliya telah dipilih untuk membeberkan apa-apa yang tersembunyi. Ustadz, mubaligh, kyai kenapa tidak membeberkannya dalam pertemuan-pertemuan ceramah?, seolah semua tujuan mengendap dalam kegagalan dari keberhasilan, tapi bagaimana mungkin yang ghaib tetap tersembunyi bila pertemuan-pertemuan itu di ikat ?

Jika para wali tak berbuat ini, hal yang tersembunyi dalam Al Qur’an akan tetap tersembunyi. Mereka membukakan rahasia-rahasia yang ditinggalkan tertutup oleh Rasul-rasul. Tutup dari kesturi spiritual dibiarkan tak terjamah oleh jari-jari Rasul-rasul itu telah dibuka dan disiarkan oleh para wali dan auliya.

Dan aku sering melihat sahabat-sahabat meneriakan kata-kata :

Ana aqwal wa ana asma bal fi darrain ghairi
“aku pembicaraan dan aku pendengar, siapa yang lain itu dalam kedua dunia ini ?

“Siapa yang ada dalam jubahku, kecuali Tuhan sendiri “

“Laisa fi-draain ghairi”
(Siapa yang ada di kedua dunia ini selain dari aku sendiri”)

Itu semua adalah rincian daripada ucapan abstrak dari Rasulullah “Ana Ahmadun bi la mim”
Para Wali dan auliya adalah terompet para rasul, mereka mengucapkan apapun yang ada dalam batin dari kata-kata rasul :

“Al waladu sirrun li abihii”
Anak adalah rahasia (yang diucapkan ) dari bapaknya.

Thursday, May 20, 2010

La Maujuda Ilallah

Barangsiapa mengenal Al-Haq niscaya dia melihatNya dalam tiap-tiap sesuatu...
Barangsiapa yang Fana terhadapNya maka lenyaplah dari tiap sesuatu selain Allah...
Barangsiapa yang mencintai Allah niscaya tidak ada sesuatu apa pun yang mempengaruhinya...

Ma'rifatul haq ialah melihat ketuhanan Allah dengan hati, dengan Rasa dan penghayatan lahir dan batin. Maka lenyapnya selain Allah dengan sebab penglihatan qalbu ini dan perasaan yang penuh dengan penghayatan, yang demikian mendalam terhadap keesaan Allah SWT.
Siapa yang benar-benar mengenal Allah dengan imannya, penglihatan hatinya dan perasaannya lahir batin, Insya Allah dia akan melihat Allah pada setiap sesuatu yang dia lihat, baik itu melihat Allah dalam arti Dzatnya yang tidak serupa dengan sesuatu atau dia melihat Allah dalam arti melihat kekuasaanNya, melihat cipataanNya, melihat keagunganNya sifat-sifatNya yang Maha Hebat dan Maha Sempurna (bukan dengan mata kasar).
Dan status yang lain ialah Al Fana yang berarti nampaknya kebesaran Allah sehingga menjelmalah hal keadaan ini atas segala-galanya, maka lupalah seseorang itu pada segala-galanya dan hilanglah semua itu darinya selain hanya kepada Allah. Dialah yang nampak, yang terlihat dimana-mana, sebab dia adalah Maha Esa pada Dzat-Nya dan Maha Esa pula pada sifat-sifatnya, Al Fana ialah semata-mata tanpa mahluk besertaNya.

Berbeda dengan Al Baqa yakni kelihatan mahluk sebab melihat Allah. Status ini lebih tinggi dari Al Fana, pada saat Al Fana lah keluarnya kata-kata syatahat : Ana al Haq....La maujud illalah.

Jadi barangsiapa fana kepada Allah maka Allah menarik (majzub) orang tsb. kepadaNya. Hilanglah perasaannya karena rindu dan asyik masyuk dengan Allah sehingga dia tidak melihat lagi alam mahluk ini.

Keadaan fana bergantung kepada maqam yang diperkenalkan Allah.
Fana fi Af'al, bila Allah membukakan kepada Tauhidul Af'al, maknanya pada peringkat ini ia tidak melihat lagi perbuatan selain perbuatan Allah. La Af'al Illalah.

Fana fi Asma, bila Allah membukakan/mentajalikan Asmanya, Saat itu semua nama sudah kembali kepada yang haq tidak ada yang lain lagi melainkan Dia. Inilah yang menjadi Ana Al Haq seperti apa yang terjadi pada Al Hallaj.

Fana fi Sifat, bila Allah mentajalikan sifatNya yang Maha Sempurna.
Bila keadaan berlaku, segala sifat-sifat sudah dikembalikan pada yang empunya.
terasalah pendengaran itu pendengaran Allah, dan segala-galanya milik Allah.

Fana fi Dzat yatiu fana pada menyatakan Keesaan Allah pada DzatNya. Maqom ini adalah yang tertinggi pada peringkat jenis Fana. Pada tingkatan ini akan dapat dirasakan suatu kenikmatan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata dan suara oleh huruf dan angka karena asyik dengan "Yang tidak menyerupai sesuatupun".

Maka pada tahap inilah Abu Yazid Al Bustami berkata "Subha inni", Mahasuci Aku.
Inilah sebenarnya pengakuan paling tawadhu bagi yang mengerti dan bagi yang tidak mengerti maka akan dianggap sebagai pengakuan arogan.

Semua ini berkaitan dengan Dzauq yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri, maka dengan ini jualah yang dikatakan Wahdatul Wujud. Wahdatul Wujud didalam Wahdatul Syuhud. Malah ada juga yang membeda-bedakannya. Semuanya bergantung kepada faham dan rasa masing-masing.

Wahdatul Wujud adalah berbeda dengan politeisme. Bahkan apa yang hendak di uraikan oleh Ibnu Arabi pun sangatlah halus dan masih jauh dari hakikat sebenarnya, namun beliau mencoba memanifestasikan dengan kata-kata qiyas dan ibarat demi untuk menjelaskan yang tersirat.

Selain dari ke empat jenis FANA diatas masih ada lagi yaitu BAQA. Maqam Baqa ini adalah maqam yang sempurna. Ibarat bisa melihat dua alam yaitu Lahir dan Bathin.
Melihat yang lahir tapi tidak terhijab dari melihat yang hakikat.

Seperti halnya Fana, Baqa pun mempunyai empat tahap yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Bila sudah sempurna semua maka saat itulah akan terasa La Maujud Illalah. Dan syahadat pada peringkat inilah syahadat paing tinggi dan utama, karena sudah dinafi dengan La. Termasuk diri sendiri sudah tak ada maka jadilah "Dia menyaksi diri sendiri". Di peringkat inilah yang dikatakan "Aku Menyembah Aku".

Tapi perlu diingat ini semua adalah Dzauqiah atau Rasa yang dicampakan kedalam qalbu oleh Allah SWT bukan pengakuan yang sengaja dibuat di dalam kesadaran biasa, maka bila terdengar oleh yang kurang faham jadilah fitnah. Hamba tetap hamba, khalik tetap khalik. Tapi bila sudah mabuk tak dapatlah membedakan mana gelas mana arak..itulah gila birahi mabuk hakiki.

Barang siapa mengenal akan Tuhannya maka binasalah dirinya. Inilah yang dimaksudkan Hanya Allah yang wajibal wujud...yang lain binasa...

Latihan kearah memfanakan diri inilah yang mesti diamalkan sehingga sampai ke tujuan Hanya Allah, Karena Allah, Demi Allah....

La Maujudan memberi maksud ujud pada tahap hakikat, inilah tahap yang hendak dicapai atau dihayati sewaktu menyebutnya. Secara umum menafikan keujudan semua ini (termasuk kita). Jadi yang ada hanyalah Allah semata-mata yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Maka inilah yang kita kenal sebagai Tauhid.

Diperingkat inilah ahli hakikat dan ma'rifat mengalami atau merasakan apa yang dikatakan binasa atau fana itu dan karam didalam kebesaran Allah SWT.

Wallohualam bi showab

Wednesday, April 14, 2010

Amazing -19

19 adalah angka Tauhid (Wahid/Esa/Tunggal) tanpa sekutu for The Mighty God.

- Angka terkecil dan terbesar bilangan basis 10 -> 1 dan 9
- Jumlah angka 1+2+3.... +19 = 19 x 10
- 10 + 9 = 19, (10+9) x (10-9) = 19
- Dengam kata lain selisih antara 9 x 9 dan 10 x 10 = 19

Pada saat Al Qur’an turun, perhitungan masih memakai bilangan Romawi, perkalian bil puluhan, ratusan masih jadi pelajaran bagi sarjana atau Filsuf.

19 adalah angka Tauhid, baik untuk Ibrani /Aramaik maupun Arabic.

Dalam bahasa Ibrani, Esa = VAHD = 6 + 1 + 8 + 4 = 19 dimana V adalah angka 6..
Dalam bahasa Arabic, Esa = WAHD = 6 + 1 + 8 + 4 =19 dimana W aadalah angka 6...
Al Qur’an adalah mushaf ke 19 yang diturunkan Allah kepada nabi-nabinya.
Note : => Numeric proof.

Kata Basmalah - Bismillahirohmanirrohim dalam huruf Arab terdiri dari 19 huruf
Setiap kata Basmalah (Bismi-Allah-ArRahman-ArRohim) terdapat dalam Al Qur’an dalam kelipatan 19.
Kata Ism 19 kali => 19 x 1
Kata Allah 2698 kali => 19 x 142
Kata Rahman ada 57 kali => 19 x 3
Kata Rahim ada 114 kali => 19 x 6

Jumlah ayat yang mengandung salah satu kata dari Allah/Rahman/Rahim ada 1919 kali => 19 x 101
114 surat dalam Al Qur’an => 19 x 6
Setiap awal surat selalu diawali dengan Basmalah, kecuali QS-9 (At-Taubah), tapi QS-27 : 20 memuat Basmalah, sehingga total Basmalah dalam Al Qur’an tetap 114 => 19 x 6

Perhatikan juga bahwa QS-27, berarti berarti tepat surat ke 19 dihitung dari QS-9.
Wahyu pertama QS-96 : 1-5 terdiri dari 19 kata
Wahyu pertama QS-96 : 1-5 terdiri dari 76 huruf => 19 x 4
QS-96 total terdiri dari 304 huruf = > 19 x 16
QS-96 berarti surat ke-1 dari 19 surat terakhir, surat2 sebelumnya ada 95 = > 19 x 5
QS-110 surat terakahir diturunkan terdiri dari 19 ayat, ayat pertamanya terdiri dari 19 huruf...
Jumlah ayat dalam Al Qur’an ada 6346 =>19 x 334
Bahkan 6+3+4+6 = 19 Kebetulan kah?. Bukan... ini benar loh...

Dalam Al Qur’an terdapat 25 kata Wahidan (Esa), 19 diantaranya merujuk kepada Allah
Kata Qur’an dalam Al Qur’an ada 57 => 19 x 3
Terdapat 38 surat berbeda = >19 x 2
QS-36 (Yassin) diawali huruf Yaa (Y) dan Siin (S) jumlah kedua huruf tersebut dalam Surat Yassin ada 285 => 19 x 15
Huruf N mengawali QS-68 jumlahnya ada 133 => 19 x 7
Huruf Shaad (Sh) mengawali QS-7, QS-19, dan QS-38. Jumlah huruf Sh dlm surat tsb ada 152 => 19 x 8
Huruf H dan M mengawali 7 surat dari QS-40 s/d QS-46 jumlah dua huruf tsb, dalam ketujuh surat tsb ada 2147 => 19 x 113
Khusus QS-42 ayat kedua juga diawali huruf-huruf Ain-Syiin-Qaaf (A,S,Q).
Jumlah A=98, S=54 dan S=54 total 152 = > 19 x 8

Angka 19 adalah pembagi paling complicated. Bukan angka 19 nya yang hebat dan ajaib, tapi Al Qur'an memang hebat. Keunikan angka 19 sebagai bilangan kunci dalam al-Qur'an tidak berhenti sampai disitu, Angka 19 merupakan salah satu angka mukjizat dalam Al-Qur'an. Amazing bukan ?

Wednesday, April 08, 2009

The Mirrors

Bila Tuhan ingin mengamati DiriNya sendiri, Dia menginginkan cermin-cermin terang benderang dari satu sisi dan sisi gelap dari sisi lain. Tubuh-tubuh manusia berisi Qalb yang terang benderang pada satu sisi dan gelap pada sisi yang lain. Dia menyatakan diriNya pada sisi yang terang benderang. Bertambah terang benderang Qalb itu bertambah jelas ia me-refleksi kan Tuhan.

Keserbaragaman adalah didalam Qalb dan bukan dalam pengamat, karena itu Roh adalah refleksi daripada Tuhan, hanyalah satu Refleksi bukan Hulul atau Inkarnasi.
Keterang benderangan cermin me-refleksi-kan wajah dari pengamat, cermin Qalb ditutupi oleh kegelapan pada satu sisi, yang dinamakan kebendaan. Dalam hal ini pandangan si pengamat dilemparkan kembali kepadanya, maka refleksi itu hanyalah nama, untuk ini yang sebenarnya tidak ada. Yang kelihatan adalah wajah si pengamat.

Keserbaragaman wajah adalah wajah si pengamat, keserbaragaman adalah karena jumlah cermin, sedangkan wajah itu hanya satu, tak ada keserbaragaman dan satu wajah tanpa keserbaragaman dari cermin dalam berbeda ukuran, bikinan dan warna, dalam hal ini si pengamat membikin suatu kesalahan bahwa satu benda ini sebagai banyak. Dinamakan Ruh atau Amri Rabb dalam Syariat dan Tajali dalam Tasawuf, Tajalli sesungguhnya manifestasi dan memperlihatkan suatu benda kepada dirinya sendiri oleh dirinya sendiri, oleh karenanya bagi pengamatan Nafs ini, Dia membikin cermin-cermin dari DiriNya Sendiri, menamakan sisi mereka yang terang benderang dengan nama Qalb (batin) dan sisi mereka yang gelap dengan nama Qalib (tubuh). Dia memperlihatkan Dirinya Sendiri dalam sisi yang terang benderang

Cermin dan refleksi dan pengamat adalah satu dan realitas sama. Si Pengamat merasa tidak puas dengan nikmat keindahanNya dan akan mencarinya sampai ke batas yang tak ada kesudahannya Cermin tidaklah mengambil bagian dalam pengamatan. Keterangbenderangan dan kegelapan hanyalah alat -alat pengamatan. Sisi yang gelap dari cermin semata-mata hanyalah penebalan dan pengkongkritan dari keterangbenderangannya. Sebaliknya tidak ada kegelapan disitu, seperti air menebal menjadi es. Didalam air pandangan bisa tembus, dalam es hal ini tidak bisa. Tidaklah mungkin ada pengamatan jika hanya ada keterangbenderangan dan direfleksikan oleh kegelapan (karena ermin itu dilapisi). Tuhan tidak bisa melihat dirinya sendiri direfleksikan dalam malaikat-malaikat, yang merupakan tubuh yang terang benderang dan dalam hewan yang ada tubuh-tubuh gelap. Manusia mempunyai sisi yang terang benderang dan sisi yang gelap dan dengan begitu menjadi cermin yang cocok untuk merefleksikan Nya, suatu pembuluh yang cocok untuk mengamankan cahayaNya. Manusia tidak melihat jin dalam dunia ini, sebab mereka mempunyai tubuh dari cahya yang ditembus oleh pandangannya dan jin tidak akan melihat manusia di dunia yag akan datang sebab tubuh nya akan amenjadi lebih transparan (tembus cahaya) daripada jin.

"Dia berada dalam nafs-mu (dirimu), apakah engkau tidak memperhatikan"
(QS : Ad Dzariyat : 21)

"Kami telah mengutus seorang pesuruh dalam nafs-mu"
(QS At Thaubah : 128)

Menunjukkan bahwa ‘ke-aku-an’ daripada seseorang adalah seorang pesuruh.

"Laa yasani ardhi wa laa smaa’i walakin ya sanii qalbii abdul mukmin"
“Aku tidak bisa berada di bumi dan di langit, tapi aku bisa berada di dalam qalbumukmin yang shalih”.

Ruh adalah penjaga-penjaga pintu kerajaaan Illahi, dia membikin dirinya sendiri dan orang-orang lain mencapai Tuhan, oleh karena itu engkau menganggap dirimu sendiri sebagai utusan (khalifah) Tuhan, realitas manusia mempunyai keharusan dan kemungkinan pada masing-masing seginya.

Antara dua jari dari jari-jari Tuhan, berkata hadist dalam hal ini, dan juga QS Bani israil : 70
"Telah kami muliakan anak-anak Adam...."

Wednesday, April 01, 2009

Jasad Manusia

Kejadian jasad manusia mempunyai beberapa hikmah dan rahasia yang menyamairahasia kejadian langit dan bumi, maka alangkah baiknya kita memberi gambaranperumpamaan dengan serba ringkas dalam ilmu Tasrikh yaitu Ilmu Tentang Asal Usul Kejadian Manusia.
Bahwa Manusia mempunyai 360 tulang yang sama dengan 360 derajat pada lingkaran bumi dan juga 360 hari. Manusia juga mempunyai 17 sendi yang besar karena umumnya manusia terjaga setiap sehari semalam 17 jam yaitu 3 jam pada awal malam dan 2 jam pada awal siang dan 12 jam pada masa siang. Maka dalam 17 jam inilah gerak gerik anggota yang 17 sendi itu melakukan kebajikan atau kejahatan ? maka syariatnya diwajibkan dan difardhukan kepada manusia mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari semalam sebanyak 17 rakaat.

Manusia mempunyai Urat-Urat besar dalam badan manusia berjumlah 12 yaitu jadi ibarat 12 bulan setahun dan 12 jam pada siang dan 12 jam pada malam. Dikatakan juga bilangan rambut manusia ada 124.000 yaitu supaya mengingatkan kepada kita jumlah Nabi-nabi yang diikhtirafkan ulama sebanyak 124.000 nabi dan banyak lagi rahasia-rahasia kejadian tubuh manusia yang sengaja ditinggalkan dan masih banyak lagi rahasia-rahasia diri manusia yang sama dengan alam semesta ini, diantaranya sbb :

Di alam dunia ada Siang dan Malam, didalam diri manusia ada Jaga gambaran dari Siang dan ada Tidur gambaran dari Malam.

Di alam dunia Hari yang Tujuh gambarannya di dalam diri manusia adalah Inderawi yaitu 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung dan 1 mulut.

Di alam dunia satu tahun ada 12 bulan, gambarannya di dalam diri adalah 2 tangan 2 kaki, masing-masing memiliki 3 patahan tangan dan 3 patahan kaki dikali 2 (kiri dan kanan) adalah 12.

Di alam dunia satu Windu ada 8 tahun, gambarannya dalam diri adalah di tangan dan kaki ada mata (mata kaki) masing-masing 2 di tangan dan 2 di kaki dikali 2 (kiri dan kanan) jumlah 8.

Di alam dunia ada hawa Panas, hawa Dingin, hawa Angin dan hawa Tanah, maka didalam diri pun ada hawa nafsu Amarah, Lauwamah, Sawiyah dan Muthmainah.

Di alam dunia terang karena ada Matahari sumber kehidupan seluruh isi dunia, kenyataan didalam diri manusia ada Hidup nya, namun yang ini sifatnya gaib tidak dapat dijirimkan, kenyataan inilah yang harus dicari dengan tarikat untuk menyatakan sifat Hidup, tidaklah bisa dilihat dengan awasnya mata kepala tapi harus dengan mata batin (Rasa).

Yang menghidupkan jasmani kita itu adalah mataharinya Wujud yang disebut Jauhar Latif (Nur yang teramat halus) tidak akan dapat di indera, tapi wajib ketemu oleh kita. Al Qur’an menyebutkan :

”Semata-mata manusia buta didunia, maka di akhirat pun tetap buta"

Sebagai bandingan, bukti di alam dunia ini kita bisa bisa hidup karena adanya Terang, maka Terang-nya Batin pun harus kita telusuri agar ketemu dengan nikmat akhirat yang langgeng.

” Wa asmaihi ta’alla a badan bil kuffra”
“Barangsiapa yang hanya mengaji Asma saja tetaplah kafir”

Karena tidak mengenal akan barangnya, hanya menyembah Nama saja. Setegasnya kata Allah itu adalah Nama dan setiap Nama tentu mengambil dari bukti, dari Dzat SifatNya akan tetapi Dzat Sifat Allah SWT tidaklah bisa dilihat dengan awasnya mata kepala, bisa dilihatnya hanya dengan awasnya mata batin yang disebut Hakikat Muhammad karena hanya itulah yang bisa menyampaikan kita kepada Dzat SifatNya Allah SWT, sedangkan kepada SifatNya yaitu dengan
AsmaNya. Tidaklah ada kejadian yang bisa menyamai dengan kejadian manusia pada nisbat nya yang indah dan baik penciptaannya dan mulia keadaannya serta tinggi derajatnya jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang lain seperti firman Allah dalam QS : At Tin ayat 4

“Sesungguhnya kami jadikan manusia itu sebaik-baiknya kejadian”

dan tidak ada satupun kejadian yang diperintah oleh Allah kepada malaikat supaya sujud dan tahiyat melainkan manusia (Adam) dan juga menyebabkan syetan dimurkai dan dikutuk oleh Allah karena ingkar pada perintahNya untuk memberi hormat dan sujud kepada manusia (Adam). DijadikanNya semua perkara pada manusia sifat Ma’ani yang Tujuh karena tempat menerima Atsar (tempat), Sifat Ma’ani Qadim yang dinamakan Naskhah Al Haq.

Sesungguhnya manusia itu Lemah dan Bodoh, apabila dimusyahadahkan akan kejadian diri semata-mata diri yang dzohir atau diri yang batin, maka tidaklah akan cukup Akal manusia untuk memikirkan Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu, maka sulit untuk memberikan gambaran atau takrif yang mensifatkan dari jenis apa ?. Maka Al Qur’an memberikan pengajaran sebagaimana firman Allah dalam QS : Al Isra: 85 :

“Jika engkau ditanya tentang ruh, katakanlah ruh itu adalah urusanKu”

Oleh karena susah akan membuat takrif, maka disebut oleh orang arif dengan nama Latifatul Rabaaniyah, maka bersungguh-sungguh guru-guru ahli ahli Ma’rifatullah melalui Tarikatnya yang disebut Ilmu Suluk karena :

Tidak ada hasil kejernihan dan kesucian hati dengan tidak melalui Tarikat (Pengambilan Ilmu atau Amalan dari Guru) yang diterima dari guru yang mursyid
Tidak bisa membedakan antara yang haq dan yang batil (makna sebenarnya dari hakikat ma’rifat).

Friday, March 27, 2009

Hakikat Lailatul Qadar

Sesungguhnya aku telah turunkan al Qur’an di malam yang penuh berkah “(Ad Dukhan : 3)

Hakikat Lailatul Qadar adalah kejernihan dan kebersihan, itulah mengapa Allah mensifatinya “pada malam itu dijelaskan segala perkara yang penuh hikmah”

Demikian halnya dengan nafsu, diciptakan didalamnya perkara-perkara yang penuh hikmah, dibisikkan kepadanya kedurhakaan dan ketaqwaan. Hati manusia ibarat langit dunia yang diturunkan kepada al Qur’an secara keseluruhan, lalu perlahan menjadi jelas dan terang, tergantung kepada si penerimanya. Mereka yang menerima dengan matanya tidak sama dengan mereka yang menerima dengan telinganya. Arti bahwa Al Qur’an diturunkan secara keseluruhan kedalam hatimu tidak berarti bahwa kita telah hafal dan merasakannya.

Namun artinya bahwa al qur’an itu telah kita miliki dan ada pada diri kita, hanya saja kita tidak mengerti dan tidak menyadarinya. Langit dunia pun demikian ketika turun kepadanya Al Qur’an tidak berarti ia menjaga nash-nash nya. Ini adalah permasalahan rohani... And then bagaimana Al Qur’an itu senantiasa turun terus menerus kedalam hati hamba-hamba, adalah karena kejadian itu tidak mungkin terjadi dalam dua masa yang berbeda, dan kejadian itu juga tidak mungkin berpindah dari satu tempat ketempat lainnya.
Ketika telinga mendengar suara yang membacakan ayat, maka Allah menurunkan ayat tersebut kedalam hati pendengarnya agar ia menyadari dan menjaganya. Apabila hati tersebut sibuk maka sang pembaca pun mengulangi bacaannya dan kembalilah Al Qur’an itu turun. Begitulah al Qur’an turun secara terus menerus dan abadi. Kalau ada orang yang berkata “Allah telah menurunkan al Qur’an kepadaku “ sesungguhnya ia tidak berbohong karena Al Qur’an telah senantiasa melakukan perjalanan kedalam hati dan sanubari hamba-hamba yang menjaganya. Maka sesungguhnya manusia yang sempurna tidak lain adalah Al Qur’an itu sendiri. Ia datang dari dirinya menuju malam yang penuh berkah. Malam itu gaib dan langit-langit dunia adalah tutup keagungan yang paling rendah, disana ada penerangan dan pembeda yaitu bintang-bintang dan tergantung hakikat ilahiyah untuk memahaminya. Ia menunjukkan hukum-hukum yang berbeda-beda. Manusia yang memahami itu semua. Bintang-bintang itu senantiasa turun kedalam hatinya hingga kemudian menyatu, lalu lenyap dan terbukalah hijab itu, sirnalah ia dari ketentuan “dimana” dan “apa” dan hilang kegaiban.

Al Qur’an yang diturunkan adalah kebenaran sebagaimana Allah SWT menyebutnya kebenaran, setiap kebenaran adalah hakikat dan hakikat Al Qur’an adalah manusia itu sendiri’.

Renungkanlah perjalanan ini dan engkau akan terpuji dipengujungnya.

Monday, March 02, 2009

Manusia Tuhan


Siapakah orangnya yang sudah bisa sholat yang di dalam sholatnya bisa mentransendir peran dirinya menjadi peran Ketuhanan, Qudrat dirinya menjadi Qudrat Allah dan Iradat dirinya menjadi Iradat Allah? Dirinya adalah Qodrat dan Iradat Allah. Qodrat dan Iradat dirinya sudah ditinggalkan. Peran dirinya, motivasi hawa nafsunya sudah dihilangkan. Siapakah sesungguhnya orang yang begitu? Apakah wujudnya orang yang seperti itu? Dia adalah bukan manusia, karena dia adalah makhluk yang datang dari hadirat Allah. Dia adalah orang-orang Tuhan. Dia adalah hamba-hamba Allah. Dalam sebutan orang biasa ia adalah orang-orangnya Allah. Tapi pendapat yang lebih ekstrim menyebutnya sebagai Wujudullah itu sendiri. Wujudullah itu bukan Dzatullah. Wujudullah adalah penampilan Tuhan.

Tapi tidak usah dipermasalahkan karena hakikatnya sama, hanya permasalahan bahasa. Pada pokoknya dia adalah orangnya Tuhan. Dia adalah manusia yang mengaf’alkan sifat-sifat Tuhan. Mereka adalah para Nabi, para Rasul, para orang suci, para sufi. Mereka adalah manusia biasa yang bisa ditanya dan diraba fisiknya. Dzatnya tetaplah dzat manusia, tapi wujudnya adalah wujud Tuhan. Karena perannya adalah peran Ketuhanan, kodratnya adalah Kodrat Allah, iradatnya adalah Iradat Allah. Jadi wujudnya adalah wujud Allah di dalam ruang dan waktu yang terbatas. Bukan Allah yang transenden tapi Allah yang imanen.

Pandanglah sebuah daun talas dengan setetes air di atasnya. Daun talas itu perumpamaan fisik, air adalah perumpamaan diri, sedangkan sorot matahari yang ada di dalam air itu adalah perumpamaan kehadiran Tuhan di dalam diri. Meskipun Tuhan tidak bisa diperumpamakan, ‘Dzat laitsa kamishlihi’ tapi ini adalah rekayasa akal untuk bisa mempersepsikan sesuatu yang tak bisa dipersepsi. Dia persis seperti matahari, bersinar putih cemerlang. Tetapi refleksi matahari ini tidak bisa dikeluarkan dari air, karena pada hakikatnya ia ada. Begitu pula dengan manusia Tuhan, dia persis seperti Tuhan. Kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Hidayahnya adalah hidayah Tuhan. Tetapi dimana letak Tuhan di dalam dirinya tidak dapat ditunjukkan, karena hanya pantulan semata. Seperti itulah para Nabi, para Rasul, dan para sufi besar. Hanya wujud mereka saja yang lemah tapi Peran, Kodrat, dan Iradatnya adalah milik Tuhan.

Dalam permasalahan inilah timbul perbedaan pendapat antara ahli ilmu kalam dengan ahli ilmu tasawuf. Karena para ulama hanya memahami bacaan, sedangkan ahli tasawuf menghayati kehidupan. Perolehanan para sufi adalah dari penghayatan hidup. Penghayatan dalam mencari siapakah sesungguhnya dirinya. Bukankah agama mengatakan kalau kita berbuat baik bukan kita yang berbuat baik, tapi Allah-lah yang berbuat baik, hanya melewati diri kita. Kita bukan Allah. Tapi kalau kita berbuat buruk, maka kitalah yang berbuat buruk, bukan Allah. Seperti itulah, Kodrat dan Iradatnya adalah Iradat Allah.

Sebagian manusia memahamai hanya melewati suatu bahasa tinggi, bahasa falsafah. Sedang bagi para sufi ini hanya perbedaan bahasa, bukan perbedaan substansi. Jadi antara ahli ilmu kalam atau ilmu tauhid dengan para ahli tasauf sesungguhnya tidak berbeda. Perbedaannya hanya perbedaan bahasa. Perbedaan kecerdasan untuk mengungkapkan siapakah Tuhan sebenarnya. Karena Tuhan dalam Ahadiyah-Nya, tak seorangpun yang tahu. Bahkan Nabi2 juga tidak tahu. Malaikat2 pun tidak tahu. Tuhan dalam kesendirian-Nya adalah tertutup, tidak ada sesuatupun yg tahu. Sehingga Rasulullah ketika ditanya bagaimana ma'rifatnya terhadap Allah, dia hanya mengatakan "Araftu bi rabbi...." Kukenal Tuhanku dengan Tuhanku. Bukan dengan akalku, bukan dengan ibadatku, ataupun kesucianku. Kukenal Tuhanku dengan Tuhanku. Yang mengenal Tuhan itu Tuhan sendiri yang hadir dalam hatinya.

Daun talas tidak tahu apakah matahari ada atau tidak ada. Air yang di atasnya pun tidak tahu matahari ada atau tidak ada. Yang mengetahui bahwa matahari ada itu hanyalah matahari kecil yang ada dalam refleksi ini. Matahari kecil ini adalah perumpamaan iman. Kehadiran Allah di dalam dada menurut istilah syariat adalah iman. Kehadiran Tuhan adalah bagai pantulan ini, yang bukan bagian diri kita karena ketika kita mengeluarkan matahari kecil ini nyatanya tidak bisa. Maka Rasulullah mengatakan "Kukenal Tuhanku dengan Tuhanku". Bukan dengan akalnya, bukan dengan perbuatan amal sholehnya, melainkan dengan Allah yang hadir pada dirinya. Itulah yang mengetahui Tuhan. Maka banyak doa yang menyeru Tuhan dengan sebutan "Wahai Dzat Yang tiada tahu siapa Dia kecuali Dia sendiri". Yang tahu siapa Allah itu hanya Allah, yaitu Allah yang transenden. Allah Yang dalam Al-Ahadiyat-Nya. Allah Yang Tetap.

Wednesday, February 25, 2009

Mentari Tengah Hari

Manusia-manusia itu ada yang dikirim dari kesatuan kepada kejamakan, dari Wahdat ke Katsrah. Mereka ditutupi oleh kegelapan dari sifat dasarnya sendiri. Hal ini berlangsung melalui Tajalli daripada kemurkaan Illahi, yang mana do’anya :

A’udzu bi afwika min shaktika
“Aku memohon perlindungan ampunan dari kemurkaanMu”

A’udzubilahi mina’syaithoni’rajjim
“Aku memohon perlindungan Allah dari syetan yang direjam”.

Tajalli ini bagai awan panas yang bisa terbang menghilang. Ini adalah kehidupan manusia ‘yang di setujui’ dari kehidupan manusia yang dilakukan seorang salik.
Ada pula kelalaian manusia ‘yang di akui’ diatas bumi ini dan mengamati perbuatan-perbuatan dari adat-istiadat dari kaum mereka sampai kepada batas, bahwa pembatasan-pembatasan duniawi mereka tidak mengambil warna dari Ruh, seperti terjadi pada Aulia tertentu dan nabi-nabi seperti Idris. Tajali ini daripada Dzat timbul pada suatu saat dan menghilang disaat yang lain. Bila berlaku terus menerus, pembatasan-pembatasan pun akan hilang.

Arwahinna ajsaadinaa wa ajsaadinaa arwahinaa
“Roh Kami adalah tubuh Kami dan tubuh Kami adalah roh Kami”.

Ada juga beberapa yang dimusnahkan yaitu menjadi lupa pada diri mereka sendiri dalam suatu Tajalli daripada Dzat, dan berada tetap dalam Maqom-i Mahmud (tempat yang mulia) untuk selama-lamanya, mereka adalah Madzjuub Absolut. Beberapa di antara mereka yang kembali dari tempat yang mulia itu, menjadi saalik. Dalam suluknya mereka terkadang menjadi bebas dan begitu menurun, mereka menjadi seperti ternak dan menurun lagi, Ulaikaa’l anaami balhum adhallu’ dan kadang-kadang beberapa diantara mereka mendapat kenaikan dengan melakukan perjalanan dari tajalli dari Dzat kepada Sifat dan dari Sifat kepada Af’al. Dengan demikian lengkaplah sirkuit dari perjalanan mereka. Suluk ini terjadi dari perjalanan kepada Tuhan, dengan Tuhan (bi’llah), dalam Tuhan (fi’llah) dan bersama Tuhan (ma’a’llah). Perjalanan itu adalah reklamasi yang lain-lain.

Seorang madzjuub kembali dari jazbaah bagai matahari di tengah hari, tidak membuat bayangan, dan dalam kembalinya, dia seperti matahari yang terbenam yang telah melakukan semua perjalanan.

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagimu dan
Ku cukupkan kepadamu nikmatKu” (QS : Al Maidah : 3)
 
© Copyright 2012 RasaDzaati
Alwinz